Posted by: ammar | June 22, 2009

Menuju Baiti Jannati

Alhamdulillah akhirnya proses pindahan rumah berjalan lancar, sudah 3 hari (sejak sabtu) aku menempati rumah kami, kebetulan Ali dan bundanya baru bisa mulai menempatinya tadi pagi dikarenakan kondisi rumah yang belum memadai untuk usia Ali, jadi biarlah ayahnya ini terlebih dahulu menyiapkan seluruh keperluan yang dibutuhkan agar rumah ini layak di tempati bayi seusia Ali.

Mudah-mudahan Rumah yang kami tempati ini akan menjadi Rumah yang selalu di berkahi oleh Allah S.W.T. Sebuah rumah yang dapat menjadi Surga bagi kami seluruh penghuninya … “Baiti Jannati” Amin .

Advertisements
Posted by: ammar | May 15, 2009

Ali, 2 minggu, Pelajaran Berharga

Tepat semalam Ali berumur 14 hari atau 2 minggu, tak terhitung banyaknya pelajaran berharga yang gw bisa petik. Sebenarnya sejak dari Ali di kandungan sampai proses kelahiran Ali, Alhamdulillah semuanya di lancarkan Allah dan sangat banyak pelajaran yang telah gw dapat.

Proses kelahiran Ali memakan hampir 12 jam, sejak dinyatakan bahwa bundanya sudah pembukaan dua (ntah istilah kedokteran, atau persalinan) sampai pada pembukaan sepuluh atau sudah memungkinkan untuk persalinan, dan keberadaan gw disitu sedikit banyak membuka mata, otak dan seluruh indra tubuh gw untuk menyaksikan sebuah kejadian luar biasa dan teramat dahsyat untuk otak gw terima.

Alhamdulillah istri gw dapat melalui persalinan secara normal dan gw dapat ada disitu tepat disebelahnya saat dia melahirkan, bahkan ikut mendorong perut istri gw saat para perawat di instruksikan bu dokter untuk mendorong. Disitulah gw menyadari bahwa benar surga berada di telapak kaki ibu, perjuangan hidup dan mati seorang ibu saat persalinan (belum lagi membesarkan) membuat seorang anak durhaka tidak hanya layak di kutuk menjadi batu, atau tidak mencicipi surga, bahkan jika ada hukuman yang lebih pun gw rasa layak untuk di timpakan.

Sejak saat itu gw belajar menjadi ayah, walau banyak yang tidak percaya jika gw bisa, bahkan tidak ada yang percaya gw mampu mengendong Ali, kenyataanya gw menidurkan Ali didalam pelukan gw dimalam pertama ia dilahirkan, karena ibunya masih terbaring di tempat tidur :), ya.. ya.. mungkin gw pernah cerita, gw juga telah memiliki 4 orang anak (baca: keponakan) yang sedari kecil gw rawat dan temani saat gw liburan kuliah atau kerja, sehingga gw sudah cukup akrab dengan situasi seperti ini.

Beberapa hari ini bacaan gw dan istri (dah duluan dari sebelum lahiran) adalah buku tentang bayi, tontonan gw dan istri adalah vcd/dvd (pinjam dari teman) tentang bagaimana memijat bayi, memahami bahasa bayi (kala dia lapar, tidak nyaman, ingin buang air, ingin bersendawa; walau lebih sering salah deteksi :P) , bagaimana mendiamkan bayi dengan teknik mengendong dan berbisik (hush).

Perkembangan Ali juga termasuk menakjubkan dimata gw, tubuhnya yang teramat merah mulai tampak berisi. Pada hari ke 5 Ali sudah menolak untuk di “bedong”, tali pusarnya telah terlepas pada hari ke 9 dia dilahirkan. Beberapa kali kami bergiliran membantu dia bersendawa, suatu hal yang sangat mengganggu buat bayi dan menyiksa mereka.

Sekarang Ali sudah 15 hari, dan kami masih terus belajar menjadi orangtua yang amanah. Amin.

Posted by: ammar | April 17, 2009

Pemilu 2009 dan fenomena para calon pemimpin

“Pemilihan umum telah memanggil kita” – Jaman dahulu kala setiap mo lima tahun pasti ada lagu ini, bekgron lagunya di tipi juga “warna”-nya jelas kala itu :). Yah, untungnya gw ga ikutan milih kala itu, karena pertama kali gw milih adalah di 1999, setelah mulai membludaknya jumlah parpol yang ada.

Tahun ini kembali terjadi pemilihan umum, walau teman-teman semua pasti sudah bosan dengan cerita mengenai ini, begitu juga betapa bosannya gw melihat seputar berita mengenai ini di televisi baik pada acara yang bener-benar acara “news”, sampai acara gosip.

Tahun ini gw di paksa untuk tidak memilih, karena apa? nama gw tidak termasuk dalam DPT, dan ternyata puluhan atau bahkan jutaan orang di negeri ini juga mengalami hal yang sama?. Satu hal yang sangat gw sayangkan, bukan karena gw tidak mau ikut memilih, tetapi pada kenyataannya gw dipaksa untuk tidak memilih.

Yang menjadi sorotan gw adalah lebih kepada banyaknya caleg-caleg yang umumnya menjadi target pemerasan parpol (dengan metoda kalo mau di calonkan harus bayar “jatah preman”) yang menjadi sakit-jiwa, stress, bahkan sampai bunuh diri. Betapa sedihnya kit amemiliki calon-calon pemimpin seperti ini, pahamilah untuk menjadi berarti, tidak berarti harus menjadi pimpinan, setiap kita di beri kelebihan masing-masing, jadi kalo mental sendiri belum siap untuk memimpin diri sendiri, maka jangan coba-coba untuk mencalonkan diri untuk memimpin umat.

Sewaktu smu gw sering membaca kisah para sahabat yang menolak keras dan takut apabila di tunjuk untuk menjadi pemimpin, takut bukan karena tidak pantas, tetapi takut “tidak sempurna” untuk menjalankan amanah. Sangat banyak sekali teladan para pemimpin islam yang gagah perkasa itu menolak untuk di calonkan baik sebagai pemimpin perang, atau sebagai penerus Rasulullah sebagai khalifah. Lihatlah pada diri Abu bakar, Umar, Ustman, Ali, bahkan sampai kepada khalifah Umar bin abdul aziz.

Mereka adalah para pemimpin umat yang tidak pernah meminta untuk di pilih, apalagi sampai membangga-banggakan diri dan menjatuhkan orang lain hanya demi tujuan untuk terpilih. Dan mereka adalah para pemimpin yang sangat berkualitas dan bersungguh-sungguhdalam menjalankan amanah, hanya karena mereka takut kepada Allah, dan sejarah telah membuktikan mereka sebagai pemimpin terbaik umat.

Wahai Allah, kami rindu pemimpin-pemimpin besar yang takut kepada Engkau, yang mencintai dan rela berkorban demi rakyatnya.

Posted by: ammar | February 6, 2009

Kekantor hari ini

Kekantor hari ini gw naek transjakarta (bukan naik motor seperti biasanya karena satu dan lain hal), bukan berarti gw baru pertama kali ini naik transJakarta, tetapi sesungguhnya adalah gw sudah lama tidak menggunakan angkutan ini, dan tahu tidak ada dua hal baru bagi gw saat menaikinya kali ini, gw naik transjakarta koridor VI.

Naik dari terminal paling ujung selatan jakarta ini, gw menemukan bahwa kali ini terdapat 2 jalur antrian, yang satu lebih panjang dan meliuk dan terlihat legal, dan satu jalur lagi yang horizontal terlihat lebih pendek dan keduanya menuju pintu yang sama. Gw tentu saja memilih yang “terlihat legal” dan mengantri cukup panjang sampai akhirnya mengerti bahwa, apabila kursi transjakarta telah terisi penuh maka barisan antrian kedua baru di perbolehkan masuk ke bus, dan antrian pertama harus berhenti.

Ya, 1 jalur untuk penumpang duduk, dan 1 jalur lagi penumpang berdiri, terkesan lucu ­čÖé meskipun harga tiket sama, tetapi setidaknya gw lebih melihat dampak positif dengan barisan yang lebih rapi dan tanpa desakan-desakan berlebih dan tanpa teriakan kernet “yang mau cepat dan bediri” , sampai ada beberapa org lari bergegas menabrak yang lain :D, ya… ini lebih efisien dan simple tetapi sayangnya baru gw temui di shelter pertama saja, akhirnya gw putuskan pindah antrian, toh deket ini,.

Yang menarik dan terkesan mengerikan selanjutnya adalah saat perjalanan, diantara sesak penumpang yang masih seperti dulu maka gw mulai mengeser menuju pintu sebelah kanan untuk turun karena terminal yang gw tuju sudah dekat, tiba-tiba seorang lelaki berujar “mas turunnya sebelah kiri”, setengah tidak percaya gw tetap maju sampai akhirnya lelaki tersebut berkata “busnya pindah jalur kok”, secepatnya gw melihat keluar dan mendapati bahwa benar bus tersebut pindah jalur, dan transjakarta yang berlawanan arah terlihat menggunakan lajur umum.

Dengan tetap mendengarkan ipod gw, setengah bergumam “buset, gimana kalo tabrakan” dan sambil mengenang kasus kereta api “di adu” baru-baru ini membut gw hanya bisa geleng-geleng. Setelah turun, gw baru menyadari bahwa jalur sah milik transJakarta telah dipenuhi (macet) kendaraan umum dan pribadi lainnya, memang gw tidak tanggap lingkungan, soalnya sewaktu di dalam bus yang gw liat kanan kiri atas bawah adalah manusia. heheh

Ya, itu dua hal yang “baru” buat gw.. hehehe

Older Posts »

Categories