Posted by: ammar | July 6, 2007

Budaya Apakah Ini?

Pas banget kejadiannya baru pagi ini, lagi macet-macetnya naik motor di jakarte (kek lagu) menuju kantor, nah di jalan ada cewe cakep dan berpendidikanlah (penampakannya) lagi nunggu bus kopaja berjarak kurang lebih 5 meter dari kopaja tersebut. Setelah kemacetan itu berakhir maka serta merta semua kendaraan maju merangsek untuk menghindari kemacetan baru, eh dengan asiknya si cewe menghentikan kopaja yang baru mulai “masukin gigi dan nginjek gas” nah secara tukang kopaja butuh duit maka dia rem lagi pas 5 meter di mana dia berhenti akibat kemacetan dan dengan “sok” ayu bak putri keraton tuh cewe naik ke kopaja tanpa rasa bersalah. Di lain sisi (englishnya: Meanwhile) kendaraan lain khususnya para pengemudi motor (gw termasuk neh) berdesakkan di belakang dan hampir bertubrukan oleh aksi “tidak-heroik” pengemudi kopaja tersebut.

Nah langsug terbersit di benak gw, wajar aja kalo macet terus! bayangin aja kalo ada 10 penumpang yang berjarak hanya 5 meter dan minta berhenti kopaja tanpa mau merangsek maju sehingga membutuhkan 5 menit untuk satu penumpang, maka untuk hanya jarak 50 meter dibutuhkan 50 menit untuk semua penumpang terangkut (bener ga matematika gw?). Wah-wah pemborosan waktu yang teramat-amat (pasti ga sesuai EYD). Untung saja gw bawa motor tinggal “selap-selip” dikit trus beres dah, dan untung gw ga bawa mobil :p (secara, ga punya duit buat beli😛). Nah ini kasus pertama.

Kasus kedua adalah, Dimanakah anda tidak menemui terminal yang tidak macet? karena terminal layaknya pasangan kekasih selalu di “tempel” ketat oleh pasar yang secara “kaget” atau tidak muncul pula disitu. Sampai ada salah satu statemen yang mengatakan “pasar ini sudah pernah dipisahkan dari terminal, tetapi para penjual berontak karena kalau terpisah dari terminal (misal 25 meter) maka tidak ad ayang mau membeli“, saat gw iseng bertanya pada tukang angkot tentang pasara yang jadi penyebab kemacetan (ini sih bukan macet, wong mobilnya berhenti total kayak parkiran).

Nah, dari dua kasus diatas apakah mereka kita terlalu manja, apakah ini budaya “para raja” ataukah budaya kemalasan?

Wallahualam ….


Responses

  1. sopir kopaja:
    “jangan sembarang lo ye…kita ini nyari makan tao…”
    pedagang kaki 5:
    “iye…emang abang mao nanggung idup anak2 aye?”
    petugas tramtib:
    “diem lo pada..bayar setoran…setoran…”

    jad kembali ke laptop….
    kalo rakyat jelata banyak yang berperilaku kurang baik…
    salahken aja punggawa dan raja yang tidak bisa mengatur dengan mencari pendekatan yang baik, buat sistem yang baik…
    agar semua berjalan baik…
    betul???

    punggawa istana:
    “eh elo jug aikut komen…bayar setoran…….!!!”

  2. Orang kita memang pemalas, luar biasa banget malasnya. Jalan sedikit saja emoh. Kerja malas-malasan. Lalu heran kenapa orang lain yang kaya 🙂

    Contoh simpel, kalau ada penyeberangan jalan, saya selalu naik itu. Kakak ipar saya malah lebih gila lagi; hamil 9 bulan (dan dia itu hamilnya luarbiasa GEDE), tetap saja naik jembatan penyeberangan🙂

    Tapi di Indonesia ini kan kalau bertindak yang benar justru jadi merasa malu – menyeberang di jembatan penyeberangan, menunggu bis di halte (asli berkali2 saya bengong sendirian sementara penumpang lainnya pada menunggu di tengah jalan, ha ha), menggunakan helm, menyetir motor pada jalurnya (dan tidak melawan arus), menghidupkan lampu motor (lha kadang lampunya tidak ada, hehe), dst.

    Ya sudah, yang penting kita jangan seperti itu ya.

  3. betul kang, cuma makin lama makin takut, soalnya sesuatu yang salah (jelas-jelas) dan dikerjakan ramai-ramai (ga mau nyebutnya berjamaah) malah di anggap benar, dan yang benar malah sebaliknya.

    aneh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories